Bagikan

MALANG- Selama dua hari, BPBD Jatim menggelar Rapat Antisipasi dan Penanganan Bencana Hidrometeorologi (Banjir dan Tanah Longsor) Tahun 2021-2022 di Bess Hotel & Resort, Lawang, Malang.

Pembukaan rapat ini dilangsungkan Kamis malam (18/11/2021) dengan ditandai peluncuran Mars BPBD Jatim oleh Kalaksa BPBD Jatim Drs Budi Santosa.

Turut mendampingi, Sekretaris BPBD Jatim Erwin Indra Widjaja, Kabid KL Sriyono, Kabid PK Gatot Soebroto, Kabid RR Andhika N Sudigda, dan sejumlah pejabat eselon IV, di antaranya, Kasi Kedaruratan Satriyo Nurseno, Kasi Logistik Bige Agus Wahjuono dan Kasi Rekonstruksi Gunarso.

Peluncuran Mars BPBD Jatim juga disaksikan secara virtual oleh Sestama BNPB Dr Lilik Kurniawan dan sang pencipta mars yang juga begawan kebencanaan, Prof Dr Syamsul Maarif, M.Si.

Dalam arahannya, Sestama BNPB menyampaikan beberapa hal penting tentang management darurat bencana. Di antaranya, tentang perlunya menyiapkan klaster-klaster dan langkah antisipasi yang perlu dilakukan pemerintah, baik di level pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.

Secara nasional, pemerintah menyiapkan 12 klaster, namun dalam pelaksanaanya, pemerintah daerah bisa membentuk sesuai kebutuhan.

Sementara itu, dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi tahun ini, Prof Syamsul Maarif menekankan pentingnya setiap daerah membuat rencana kontijensi (renkon) secara detail dari setiap jenis ancaman di wilayahnya.

Ia lalu mencontohkan Kabupaten Trenggalek. Jika potensi bencana di daerah terdiri dari banjir, longsor, gempa bumi dan tsunami, maka BPBD Trenggalek bersama stakeholders terkait harus membuat renkon satu demi satu untuk jenis bencana itu.

“Renkon itu harus dibuat dengan skenario terjelek. Jika ancaman dampak La Nina saat ini akan terjadi peningkatan curah hujan sebesar 70 persen dari biasanya, maka renkon harus menghitung kemungkinan terjelek dari kondisi itu,” jelasnya.

Ia lalu menjelentrehkan variabel ancaman yang perlu diperhatikan saat membuat renkon, yakni; lokasi, magnitude (luasan), intensitas, frekuensi dan durasi.

Ia pun berharap, sepulang rapat, setiap daerah telah membuat renkon untuk wilayahnya dengan detail jenis ancamannya masing-masing.

“Managemen bencana itu adalah memanage risiko bencana yang mungkin terjadi sebelum kejadian. Jadi, ini adalah kegiatan pra bencana. Kalau saat terjadi bencana, itu saatnya kita melakukan amal saleh, memberikan bantuan,” tegasnya. (*)

By yusron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − five =