Waspada Bencana, BPBD Gandeng Badan Geologi Teliti Potensi Likuefaksi di Jatim

LUMAJANG- Potensi ancaman bencana likuefaksi di Jatim sebagaimana yang pernah disampaikan hasil penelitian BNPB, mulai didalami BPBD Prov. Jatim.

Upaya pendalaman itu dilakukan dengan menggandeng Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengkaji dan meneliti potensi kerentanan likuefaksi (tanah gerak) di Jatim.

Adapun wilayah yang ditengarai punya kerentanan terjadinya likuefaksi adalah daerah pesisir selatan, salah satunya Kabupaten Lumajang.

Lantaran itu, Kamis (24/9/2020), aktivitas kajian dan penelitian tentang potensi kerentanan likuefaksi dipusatkan di Lumajang, tepatnya di Kecamatan Kunir.

Di wilayah yang berdekatan dengan bibir Pantai Selatan ini, kegiatan penelitian dilakukan dengan menggunakan tehnik bor tangan dan Swedish Sounding Test.

“Untuk tehnik bor tangan, kita akan ambil sampel di 150 titik yang tersebar di semua desa. Kalau yang Swedish Sounding Test, kita gunakan sebagai pendukung aja,” ujar Farah Destiasari, Ketua Tim Peneliti yang juga Penyidik Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM saat koordinasi menjelang kegiatan penelitian di Kantor Kecamatan Kunir, Lumajang, Kamis (24/9/2020).

Peta Kerentanan Likuefaksi di Kabupaten Lumajang

Rencananya, untuk melangsungkan bor tangan di 150 titik, Tim PATGTL bersama BPBD Jatim dan BPBD Kab. Lumajang akan berkeliling di 11 desa yang ada di Kecamatan Kunir hingga awal Oktober mendatang.

Untuk titik pertama Kamis (24/9), aktivitas bor tangan dan swedish sounding test dilakukan di lahan perkebunan samping Lapangan Sukosari, Dusun Sukomaju RT 27 RW 09 Desa Sukosari.

Hadir dalam kegiatan itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim Gatot Soebroto, Kasubbid PK BPBD Lumajang Amni Najmi, Camat Kunir Yudho Hariyanto dan anggota tim dari PATGTL, BPBD Jatim dan BPBD Kab. Lumajang.

Kabid PK BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan, kajian dan penelitian tentang potensi kerentanan likuefaksi ini setidaknya menjadi langkah deteksi dini dan upaya kesiapsiagaan terhadap segala potensi bencana yang ada di Jatim.

Dengan mengkaji dan meneliti potensi bencana ini, pihaknya berharap bisa menjadi upaya pengurangan risiko bencana di Jatim.

“Semua orang pasti berharap tidak ada bencana yang terjadi di sekitar kita. Karena itu kita perlu melakukan deteksi dini. Setidaknya untuk mengurangi risiko bencana, dan memenimalisir dampak yang akan ditimbulkan,” harapnya. (*)

Leave a Reply