Bagikan

KEDIRI- BPBD Prov. Jatim kembali menyusun rencana dalam upaya pengurangan risiko bencana. Penyusunan ini dilakukan dalam rapat koordinasi (rakor) Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan yang digelar pada Rabu (24/3) hingga Kamis (25/3) di Bukit Daun Hotel Kediri.

Dengan menerapkan protokol kesehatan, rakor dihadiri diantaranya Sekretaris BPBD Jatim, Erwin Indra Widjaja; Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Gatot Soebroto dan Kasi Pencegahan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy. Serta 108 peserta yang terdiri dari Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten/Kota di Jatim beserta jajaran bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan.

“Pada rakor ini ada beberapa target terkait upaya pengurangan risiko bencana, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Khususnya di bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan,” kata Kasi Pencegahan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy, Kamis (25/3/2021).

Dijelaskan Dadang, target ini diantaranya sinkronisasi sata Destana (Desa/Kelurahan Tangguh Bencana), SPAB, EWS dengan data di Desa/Kelurahan yang rawan bencana. Kemudian pemetaan kebutuhan Destana,SPAB, EWS, rambu maupun papan imbauan dan rencana kontijensi.

Selaku Ketua Panitia Rakor, Dadang mengaku, rakor juga dilakukan untuk mensosialisasikan kajian risiko bencana skala regional Provinsi Jatim tahun 2020-2024. Serta membangun jaring komunikasi dan koordinasi sampai ke level Desa/Kelurahan.

“Dengan rakor ini diharapkan tersusun rencana untuk upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Terutama untuk ancaman bencana tsunami, tanah longsor, banjir, banjir bandang dan erupsi gunung api,” jelasnya.

Pihaknya menambahkan, dengan rakor ini dapat terjadi diseminasi (penyebaran informasi) potensi bencana dan upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Paparan diseminasi ini, masih kata Dadang, disampaikan oleh pakar potensi bencana dan rencana PRB. Yakni dari Universitas Dr Soetomo (Unitomo), De Hendro dan Dr Amien Widodo dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Penanggulangan bencana ini tidak bisa dilakukan sendiri. Melainkan harus dilakukan secara pentahelix (sinergi bersama), karena urusan bersama. Intinya, mari kita tingkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap bencana,” pungkasnya. (*)

By yusron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + thirteen =