Bagikan

BLITAR- Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa merespon cepat bencana gempa yang kembali terjadi di wilayah Selatan Jawa Timur, Jumat (21/5/2021), sekitar pukul 19:09 WIB.

Orang pertama di Jatim ini, Sabtu (22/5/2021), langsung meninjau beberapa lokasi di Kab. Blitar yg terdampak gempa berkekuatan 5,9 skala richter tersebut. Di antaranya, di Dusun Buneng, Desa Boro Kec. Selorejo, dan Dusun Jabung, Desa Jabung, Kec. Talun.

Turut mendampingi dlm kunjungan itu, Kepala Bakorwil Malang Sjaichul Ghulam, Plt Kalaksa BPBD Jatim Yanuar Rachmadi, S.Sos MM dan sejumlah pejabat BPBD Jatim, di antaranya, Kabid Kedaruratan & Logistik Drs Sriyono MM dan Kabid Rehabilitasi & Rekonstruksi Andhika N Sudigda ST, M.Si.

Di dua lokasi itu, gubernur meninjau rumah warga yg mengalami rusak berat, seperti rumah Tukinem dan rumah Jazuli, penjual tempe.

Usai peninjauan, Gubernur berharap agar perbaikan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa dapat segera dilakukan.

Total perbaikan pada rumah rusak berat, rusak sedang akan dikoordinasikan lebih lanjut untuk dapat dicover BNPB, atau pun bisa dari BPBD kabupaten dan BPBD provinsi.

Perbaikan dengan penyegeraan sesuai tingkat urgensi terutama untuk warga yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan jika ada gempa susulan.

“Untuk rumah Bu Tukinem misalnya, bisa dilakukan perbaikan full paket seperti semenisasi, pembangunan MCK, dan sebagainya,” ujarnya.

Gubernur jg minta agar BPBD Jatim melakukan mitigasi bencana secara kontinyu dan lebih komprehensif khususnya di wilayah Selatan Jatim.

“Dulu yang sudah diexercise Pacitan dan Banyuwangi, tetapi saat terjadi gempa, yang terdampak justru di Malang, Lumajang dan sebagian Blitar,” katanya.

Selain itu, pembuatan konstruksi bangunan tahan gempa jg harus dioptimalkan di wilayah selatan Jatim, sebab wilayah itu merupakan titik ring of fire pulau Jawa. Saat terjadi gempa, maka resonansinya bisa antarpulau atau antarprovinsi.

Gubernur lalu menjelaskan, salah satu bentuk mitigasi bencana komprehensif yaitu, lewat kehadiran kampung/desa tangguh bencana (Destana) atau kampung siaga bencana.

Kehadiran Desa Tangguh Bencana itu penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kemandirian masyarakat sebagai antisipasi berbagai bencana, seperti, banjir, gempa atau angin puting beliung.

Setiap desa tangguh, nantinya harus ada lumbung sosial. Lumbung sosial ini berbeda di setiap potensi kebencanaan. Misalnya daerah potensi banjir di lumbung sosial disiapkan perahu karet, tali, dll.

“Nanti akan dilakukan pemetaan kembali kampung siaga bencana atau kampung tangguh sesuai dengan potensi resiko bencananya ,” imbuhnya.

Sementara, Bupati Blitar Rini Syarifah mengatakan, Pemkab Blitar sedang mendata dan menginventarisir kerusakan terdampak gempa di Blitar, baik rusak ringan maupun rusak berat. Termasuk untuk fasilitas umum.

“Inventaris dua hari ke depan insyaallah akan selesai. Kita percepat,” pungkasnya. (*)

By yusron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × two =