Rakor Siaga Darurat Banjir Longsor 2013

Banjir longsor merupakan kejadian yang kerap terjadi di wlayah Jawa Timur khususnya ketika musim penghujan. Oleh karenanya, kesiapan Kab./Kota dalam menghadapi bencana tersebut dinilai penting dalam rangka mengurangi risiko bencana. Daerah diharapkan mampu melakukan antisipasi dan penerapan kearifan lokal sehingga masyarakat dapat memahami pentingnya pengurangan risiko bencana.

Kepala BNPB yang dalam hal ini pemegang komando di tingkat pusat, turut memberikan arahan sebagai dukungan moral kepada seluruh kepala BPBD Kab./Kota di wilayah Jawa Timur. Syamsul Maarif hadir dalam kegiatan Rakor Penanganan Siaga Darurat Banjir dan Longsor Tahun 2013 ini, memberikan pemahaman bahwa pejabat yang mengurus bencana di daerah harusnya paham akan wilayahnya. “Kearifan lokal menjadi hal yang utama dalam penggurangan risiko bencana.” Ujar Purnawirawan TNI-AD. Kegiatan yang dilaksanakan di kantor BPBD Prov. Jatim ini dihadiri kepala BPBD Kab./Kota di wilayah Jawa Timur. Dalam kegiatan ini kepala BNPB didampingi oleh Inspektur Utama dan Diputi II BNPB. Pokok dari pertemuan ini adalah membahas tentang mekanisme dan pelaksanaan kegiatan siaga darurat banjir longsor yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Maret 2014.

Rakor yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan BPBD Prov. Jatim ini dilaksanakan pada 13 Desember 2013. Dalam pemaparannya, Syamsul Maarif juga menerangkan teori yang dibuatnya menjadi dasar dalam menggurangi dampak bencana. Masyarakat harus memiliki daya antisipasi, artinya masayarakat dihimbau untuk bisa mengantisipasi bila mana terjadi bencana dilingkungannya.

Selanjutnya, masyarakat diminta untuk memiliki kemampuan untuk menghindar dari bahaya, artinya ketika mereka mengetahui bahwa lingkungannya merupakan wilayah yang berisiko bencana, maka mereka harus memiliki rencana untuk menghindar ketika terjadi bencana.

Masyarakat juga harus mampu beradaptasi dan mampu menyesuaikan diri dari segala macam ancaman yang berada dilingkungannya. Tujuannya tetap pada pengurangan risiko bencana dan menjadikan masyarakat yang tangguh mengahadapi bencana.

Aspek yang terakhir, masyarakat dipupuk untuk dapat memiliki daya lenting, artinya masyarakat dapat kembali bangkit ketika bencana memang benar-benar menimpa. Hal ini dimaksudkan supaya masyarakat tidak lagi lemah meskipun bencana menimpa mereka.

Untuk itu, pemangku kepentingan yang berada di daerah sebisa mungkin untuk dapat menumbuhkan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Sehingga pengurangan risiko bencana akan dapat ditekan hingga zero accident.

 

Leave a Reply